Jalan Benyamin Sueb: Jejak Landas Pacu, Gerbang Kemayoran, dan Legenda Betawi

Jalan Benyamin Sueb adalah koridor utama di Kemayoran, Jakarta Pusat, yang membawa dua cerita Jakarta sekaligus: bekas landas pacu Bandara Kemayoran yang membentuk jalannya yang lebar, dan nama seniman Betawi Benyamin Sueb yang lahir di kawasan itu. Pengendara melintas di sini menuju kawasan pameran JIExpo Kemayoran, terutama saat Pekan Raya Jakarta.
Yang membuat jalan ini mudah diingat adalah deretan tiang baja putih melengkung di atasnya: Gerbang Kemayoran. Bersama lebar jalannya yang tidak biasa dan pepohonan besar di sisinya, tiang-tiang itu menjadi jejak paling jelas dari masa penerbangan kawasan ini.
Ringkasan singkat
- Nama jalan diambil dari Benyamin Sueb, seniman Betawi yang lahir dan tumbuh di Kemayoran.
- Sebelumnya jalan ini bernama Jalan Landas Pacu Timur, nama yang berkaitan dengan Bandara Kemayoran, bandara sipil pertama di Indonesia.
- Lengkungan putih di atas jalan adalah Gerbang Kemayoran, deretan 34 tiang baja melengkung sebagai penanda bekas landas pacu.
- Badan jalan yang lebar dan pepohonan besar adalah sisa karakter kawasan penerbangan lama.
- Koridor ini berada tidak jauh dari JIExpo Kemayoran, lokasi Jakarta Fair atau Pekan Raya Jakarta (PRJ).
Gerbang Kemayoran di atas jalan
Ciri paling mencolok dari koridor ini ada di atas kepala. Tiang-tiang tinggi melengkung ke arah langit di kedua sisi badan jalan, membentuk gerbang yang dilewati pengendara saat melintasi Kemayoran. Inilah Pintu Gerbang Utama Kemayoran, yang sehari-hari disebut Gerbang Kemayoran.
34 tiang baja putih melengkung
Struktur ini terdiri dari 34 tiang baja melengkung berwarna putih yang berderet di sepanjang jalur cepat dan jalur lambat. Dari kendaraan yang bergerak, lengkungannya terlihat sebagai satu bangunan panjang, bukan kolom-kolom terpisah, dan itulah yang membuatnya mudah dikenali dalam foto.
Filosofi "mengangkasa"
Bentuknya memang disengaja. Tiang-tiang itu melengkung aerodinamis ke arah langit, sebuah isyarat yang dimaksudkan menggambarkan sayap pesawat dan semangat penerbangan, tema yang sering disebut mengangkasa. Gerbang ini dirancang oleh arsitek Ridwan Kamil.
Penanda bekas landas pacu
Gerbang ini bukan sekadar hiasan. Ia menjadi monumen visual bahwa jalan lebar ini dibangun di atas bekas landas pacu Bandara Kemayoran, bandara sipil pertama di Indonesia yang melayani kota ini sejak era 1940 hingga ditutup pada 1985.
Dari Bandara Kemayoran hingga Jalan Benyamin Sueb
Siapa Benyamin Sueb?
Nama Jalan Benyamin Sueb diambil dari Benyamin Sueb, seniman Betawi yang dikenal luas melalui musik, film, dan berbagai penampilannya yang membawa karakter masyarakat Betawi. Profil singkatnya dapat dibaca di Wikipedia bahasa Indonesia.
Penggunaan namanya sebagai nama jalan memiliki hubungan yang kuat dengan Kemayoran. Benyamin lahir dan tumbuh di kawasan Kemayoran, sehingga namanya bukan sekadar nama tokoh terkenal yang ditempelkan pada sebuah ruas jalan. Bagi Jakarta, nama tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan ingatan terhadap salah satu figur penting budaya Betawi.
Dari landas pacu menjadi jalan kota
Jalan ini sebelumnya dikenal sebagai Jalan Landas Pacu Timur. Nama tersebut berkaitan dengan sejarah kawasan Kemayoran yang dahulu menjadi lokasi Bandara Kemayoran, bandara sipil pertama di Indonesia.
Jejak sejarah penerbangan itulah yang menjelaskan mengapa kawasan Kemayoran memiliki sejumlah ruas jalan yang lebar dan tata kawasan yang berbeda dari banyak bagian Jakarta lama. Setelah bandara ditutup pada 1985, bekas kawasan penerbangan berkembang menjadi area perkantoran, hunian, dan pameran, sementara sebagian koridornya tetap mempertahankan dimensi lamanya.
Koridor lebar di tengah Kemayoran
Salah satu karakter yang langsung terlihat ketika menyusuri Jalan Benyamin Sueb adalah dimensinya yang relatif lebar. Pada beberapa bagian, pepohonan besar masih mendominasi sisi jalan.
Pemandangan itu menciptakan kontras dengan perkembangan Kemayoran yang kini dipenuhi gedung, apartemen, fasilitas komersial, dan kawasan pameran. Dalam satu kali melintas, sisi lama dan sisi baru kawasan ini bisa terlihat berdampingan.
Arah dan koneksi ke JIExpo Kemayoran
Dari jalan ini, perjalanan juga terhubung dengan berbagai bagian penting Kemayoran dan Jakarta Utara. Kawasan JIExpo Kemayoran, yang dikenal sebagai lokasi penyelenggaraan Jakarta Fair atau Pekan Raya Jakarta (PRJ), berada tidak jauh dari koridor ini.
Karena itu, suasana Jalan Benyamin Sueb dapat berubah cukup signifikan. Pada hari biasa, lalu lintasnya bisa terasa seperti koridor perkotaan yang relatif normal. Ketika ada pameran atau acara besar di Kemayoran, volume kendaraan di kawasan sekitarnya dapat meningkat.
Yang bisa ditemukan di sepanjang koridor
Jalan ini bukan hanya jalur melintas, tetapi juga alamat beberapa tempat yang paling dikenal di Kemayoran.
Jakarta International Expo (JIExpo)
JIExpo Kemayoran adalah kawasan pameran dan konvensi besar di kota ini, tempat berlangsungnya agenda tahunan seperti Jakarta Fair (PRJ) dan Java Jazz Festival, serta konser musisi internasional. Pada hari acara, kawasan inilah yang menggerakkan sebagian besar lalu lintas di sekitarnya.
Hutan Kota Kemayoran (Utan Kemayoran)
Kemayoran juga memiliki hutan kota: ruang hijau dengan danau buatan, jembatan gantung, dan jalur lari yang menawarkan jeda singkat dari lalu lintas di tengah kota.
Pagi hari kerja dan sore akhir pekan
Pada pagi hari kerja dan menjelang sore, terutama di akhir pekan, sisi pedestrian dan jalur lambat koridor ini dipenuhi warga yang berlari santai, bersepeda, dan mencari kuliner kaki lima, sehingga jalan ini perlahan berubah menjadi ruang publik.
Jalan yang menyimpan dua cerita Jakarta
Ada hal menarik ketika melihat Jalan Benyamin Sueb bukan hanya sebagai jalur transportasi: jalan ini seakan mempertemukan dua bagian sejarah Jakarta. Yang pertama adalah sejarah Kemayoran sebagai kawasan penerbangan Indonesia. Yang kedua adalah sejarah budaya Betawi melalui nama Benyamin Sueb.
Bandara Kemayoran memang sudah lama tidak beroperasi, tetapi perkembangan kawasan setelah penutupannya masih membentuk wajah Kemayoran saat ini. Sementara itu, nama Benyamin Sueb membuat identitas Betawi tetap hadir di tengah perubahan kawasan yang semakin modern.
Bagi pengendara yang hanya melintas, mungkin tidak banyak yang memikirkan cerita tersebut. Namun ketika menyusuri jalan ini dengan lebih perlahan, Jalan Benyamin Sueb menjadi contoh bagaimana nama jalan di Jakarta dapat menyimpan potongan sejarah kota.
Tips melintas dan mengabadikan koridor
- Waktu terbaik: pagi hari sekitar pukul 06.30 hingga 08.30, atau golden hour menjelang senja, ketika cahaya pada lengkungan baja putih menghasilkan bayangan dan kontras paling kuat.
- Utamakan keselamatan: untuk memotret gerbang, manfaatkan trotoar pejalan kaki yang lebar dan hindari berhenti mendadak di badan jalan utama.
- Akses menuju lokasi: kawasan ini dapat dicapai dari Tol Pelabuhan dan Tol Dalkot (exit Kemayoran atau PRJ), TransJakarta koridor 12, serta KRL Commuter Line melalui Stasiun Rajawali atau Kemayoran.
Pertanyaan yang sering muncul
- Di mana Jalan Benyamin Sueb berada?
- Jalan ini berada di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, dan menjadi salah satu koridor penting di kawasan tersebut.
- Apa struktur melengkung putih di atas jalan itu?
- Struktur itu adalah Gerbang Kemayoran (Pintu Gerbang Utama Kemayoran), deretan 34 tiang baja putih melengkung yang dibangun sebagai penanda sejarah penerbangan kawasan ini.
- Apa nama jalan ini sebelumnya?
- Sebelumnya jalan ini dikenal sebagai Jalan Landas Pacu Timur, nama yang berkaitan dengan Bandara Kemayoran.
- Mengapa jalannya lebar?
- Karena kawasan Kemayoran dahulu merupakan lokasi Bandara Kemayoran, bandara sipil pertama Indonesia, sehingga tata kawasannya berbeda dari banyak bagian Jakarta lama.
- Apa hubungannya dengan Pekan Raya Jakarta?
- Jalan ini berada tidak jauh dari JIExpo Kemayoran, lokasi penyelenggaraan Jakarta Fair atau Pekan Raya Jakarta (PRJ).
Jalan Benyamin Sueb bukan sekadar jalan menuju Kemayoran. Di balik lalu lintas, lengkungan putih, dan deretan pepohonannya, terdapat cerita tentang bekas bandara, perkembangan Jakarta, dan seorang seniman Betawi yang namanya terus hidup di kota tempat ia dilahirkan.
Panduan rute dan artikel perjalanan lain dapat dibaca di blog Rider Street View, dan rekaman perjalanan di Jalan Benyamin Sueb dapat dilihat di YouTube.
Tags: Jakarta · Kemayoran · Betawi

Diskusi
Bagikan yang Anda tahu tentang rute ini. Komentar langsung tampil, dan tautan tidak diizinkan — tuliskan nama tempatnya, bukan alamat situs.
Memuat diskusi…